Indramayu, Jawa Barat, 21 Agustus 2026 β€” Hamparan sawah seluas 250 hektare di Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu, menjadi saksi bisu sebuah capaian yang mengubah cara pandang kita tentang batas kemampuan petani Indonesia. Di lahan inilah, Program Modernisasi Pertanian – Amran Andi Sulaiman (PM-AAS) berhasil mencetak produktivitas padi yang fenomenal: 12,35 ton per hektare gabah kering giling (GKG).

Angka ini bukan hanya mengejutkan β€” ia hampir dua kali lipat rata-rata produktivitas padi nasional yang stagnan di kisaran 5,3–5,8 ton per hektare dalam satu dekade terakhir. Dan ini dicapai oleh petani-petani biasa, bukan peneliti di laboratorium yang penuh peralatan canggih.

Apa Itu Program PM-AAS?

PM-AAS merupakan program terobosan yang diluncurkan Kementan pada akhir 2024 sebagai respons terhadap kebutuhan mendesak akan lompatan produktivitas pertanian nasional. Program ini dirancang sebagai model pertanian presisi yang menggabungkan beberapa komponen teknologi dan pendampingan intensif secara terpadu.

Nama program ini mencerminkan pendekatan personal Mentan Andi Amran Sulaiman yang turun langsung mengawal dan memastikan setiap komponen program berjalan optimal di lapangan. Tidak sekadar kebijakan di atas kertas, PM-AAS adalah program yang diiringi kunjungan lapangan berkala dari Mentan dan jajaran Kementan.

Komponen Teknologi yang Menjadi Kunci Keberhasilan

Keberhasilan PM-AAS di Indramayu bukan kebetulan. Ia adalah hasil dari implementasi paket teknologi pertanian presisi yang komprehensif dan terintegrasi:

  • Varietas Unggul Produktivitas Tinggi: Petani PM-AAS menggunakan varietas Inpari 32, Inpago 12 Agritan, dan varietas hibrida pilihan yang memiliki potensi hasil 10–14 ton/ha dengan manajemen yang tepat. Benih bersertifikat dengan tingkat kemurnian dan viabilitas tinggi disuplai langsung oleh BPSB (Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih).
  • Sistem Tanam Jarwo Super (Jajar Legowo 2:1): Penataan tanaman dengan sistem jajar legowo 2:1 terbukti meningkatkan jumlah tanaman per satuan luas sekaligus memaksimalkan penerimaan sinar matahari oleh setiap rumpun tanaman, yang berimbas langsung pada peningkatan fotosintesis dan pengisian bulir padi.
  • Pemupukan Presisi Berbasis Analisis Tanah: Dosis dan komposisi pupuk ditentukan berdasarkan hasil analisis tanah aktual menggunakan perangkat Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) digital. Pendekatan ini menghindari pemupukan berlebih yang memboroskan biaya dan merusak lingkungan, sekaligus memastikan semua unsur hara yang dibutuhkan tersedia dalam jumlah optimal.
  • Irigasi Intermittent (Berselang): Teknik pengairan berselang menggantikan praktik penggenangan terus-menerus yang umum dilakukan petani konvensional. Selain menghemat air hingga 30–40%, sistem ini terbukti meningkatkan aerasi tanah, mendorong pertumbuhan akar yang lebih dalam dan kuat, serta mengurangi emisi gas metana dari sawah.
  • Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Terpadu: Penggunaan agen hayati (musuh alami hama), pestisida nabati, dan pestisida kimia secara selektif berdasarkan monitoring populasi hama secara real-time menggunakan aplikasi e-monitoring yang dikembangkan BSIP.
  • Mekanisasi Panen dan Pascapanen: Penggunaan combine harvester modern yang dapat memanen dan merontokkan gabah secara sekaligus, mengurangi susut panen dari 8–12% pada metode konvensional menjadi hanya 2–3%.

Peran Teknologi Digital dalam PM-AAS

PM-AAS juga menjadi pelopor penggunaan teknologi digital dalam praktik pertanian lapangan di Indonesia. Drone multi-spektral digunakan untuk memantau kondisi kesehatan tanaman dari udara secara periodik, memungkinkan identifikasi dini masalah nutrisi, infestasi hama, atau kekurangan air sebelum kondisi menjadi kritis.

Data dari drone tersebut dianalisis menggunakan algoritma kecerdasan buatan yang dikembangkan BSIP bekerja sama dengan startup agritech Indonesia. Hasilnya adalah rekomendasi tindakan yang spesifik per petak sawah, yang kemudian disampaikan kepada petani melalui aplikasi smartphone berbahasa Indonesia yang ramah pengguna.

Dampak Ekonomi bagi Petani Indramayu

Lompatan produktivitas dari rata-rata 6,2 ton/ha menjadi 12,35 ton/ha yang dicapai petani PM-AAS membawa dampak ekonomi yang dramatis. Dengan harga gabah kering giling Rp 6.500/kg dan biaya produksi yang meningkat moderat (karena penggunaan input yang lebih tepat sasaran), margin keuntungan petani PM-AAS meningkat rata-rata 3,8 kali lipat per hektare per musim panen dibanding metode konvensional.

"Saya tidak percaya di awal waktu orang Kementan datang dan bilang sawah saya bisa menghasilkan 12 ton per hektare. Tapi sekarang saya yang bilang ke tetangga saya β€” gabung PM-AAS!" tutur Pak Sutarno, salah satu petani peserta PM-AAS Indramayu yang kini telah menjadi tokoh penggerak pertanian presisi di desanya.

Rencana Replikasi Nasional

Keberhasilan PM-AAS di Indramayu mendorong Kementan untuk segera mereplikasi program ini secara nasional. Pada sisa tahun 2026, PM-AAS akan diperluas ke 50 kabupaten sentra padi di 12 provinsi utama penghasil padi: Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Lampung, dan Banten.

Target ambisius Kementan: pada akhir 2027, PM-AAS akan diterapkan di 200 kabupaten dengan total luas pilot project minimal 500.000 hektare. Jika produktivitas rata-rata bisa ditingkatkan menjadi 8–9 ton/ha saja (separuh dari capaian terbaik Indramayu), ini akan setara dengan pembukaan lahan sawah baru seluas jutaan hektare tanpa perlu membuka hutan.

πŸ† Capaian PM-AAS Indramayu 2026: Produktivitas padi: 12,35 ton/ha GKG | Rata-rata nasional: 5,5 ton/ha | Peningkatan: +6,85 ton/ha (+124%) | Luas pilot project: 250 hektare | Peserta petani: 138 petani